Titipan

Beberapa hari ke belakang, saya dikejutkan oleh kabar dari HRD kantor. Anak dari rekan kerja yang masih berumur 7 bulan meninggal dunia. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Beliau sudah sangat lama menantikan anak ke-2 nya ini, kurang lebih 12 tahun jarak dengan anak pertama. Dan saat kabar duka tersebut datang, beliau masih mengandung juga anak ke-3. Tidak dapat terbayangkan bagaimana ujian dari Yang Maha Kuasa tersebut sangat menguras emosi beliau dan keluarga. Sehari setelah kabar duka tersebut, kami bersama rombongan kantor melayat. Terlihat dari raut wajah beliau sangat terpukul, kesedihan yang begitu dalam terasa begitu nyata. Kami berusaha menghibur bersama-sama, saling menguatkan dalam duka cita.

Renungan untuk diri, kita semua. Bahwa yang ada saat ini, yang kita miliki, adalah titipan dari Sang Kuasa. Harta benda, kekuasaan, jabatan, anak, keluarga semua ada untuk mengingatkan kita agar selalu berserah dan sadar. Bahwa cepat atau lambat, dalam kondisi apapun, semua bisa diambil oleh Allah. Sang Pemilik Segalanya. Kitapun lahir tidak membawa apa-apa. Siapkah jika kita dipanggil tanpa membawa apa-apa?

Mari saling mengingatkan, menjadi lebih baik dari sekarang. Tidak ada yang perlu disombongkan di dunia ini. Bersyukurlah jika Allah masih menutupi aib yang pernah dilakukan. Diberikan rizki yang halal, Lingkungan yang selalu support untuk kebaikan. Dan jangan pernah ragu, Allah memberikan banyak masalah untuk membersihkan diri. Untuk jadi pengingat bagi siapapun yang mau kembali. Insya Allah.

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan  yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS al-Kahfi [18]:46).  Wallâhu’alam.

Share this