Saat grup keluarga terpapar hoax

Jika satu orang memiliki setidaknya 5 grup whatsapp di handphone-nya masing-masing. seperti alumni SD, SMP, SMA, kuliah, temen nongkrong, temen kerja, keluarga, hobi, atau grup lainnya. maka 1 kali pesan berantai yang disebarkan oleh “Hoax Maker” akan sampai ke seluruh pengguna whatsapp jika tidak ada rem dari pengguna cerdas yang melakukan filter terhadap semua pesan yang masuk ke hp mereka. Bahkan seringkali pesan yang diterima juga sama, itu-itu saja, dan bisa berulang diterima lagi di grup-grup lain, pada tahun yang lain.

Sayapun demikian, mendapatkan banyak sekali kiriman-kiriman terusan dari “Hoax Maker” bahkan di grup keluarga sendiri. Apalagi saat pilpres kemarin, seperti berlomba-lomba sharing hal-hal yang menyudutkan paslon yang bukan pilihannya. Apakah perlu dan akan mempengaruhi pilihan pribadi? saya rasa tidak. karena masing-masing orang sudah punya standar penerimaan akal sehat sendiri. pun demikian untuk pembuat atau penyebar hoax. Jika merasa pesan yang diteruskan tersebut benar, ya walaupun kita kontra sampai mulut berbusa juga percuma. Bebal dan tidak menerima pendapat lain sering jadi pemicu konflik antar umat manusia. Padahal, ada Undang-undang yang mengatur tentang transaksi informasi di Indonesia. Entah tidak tau, atau memang sudah tidak peduli yang penting harus kelihatan paling update ?

Pasal 28 UU ITE 19/2016

Setiap Orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.”

Jika melanggar ketentuan Pasal 28 UU ITE ini dapat dikenakan sanksi sebagaimana diatur dalam Pasal 45A ayat (1) UU 19/2016 , yaitu:  

Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

Jika sudah terpapar obrolan gontok-gontokan tidak jelas semacam ini, dan jika peran kita sebagai orang yang berbudi sudah dilakukan dengan mengingatkan. Apalah daya kita sebagai manusia biasa, serahkan semua kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dibukakan pintu hati. Tidak membenci, dan tetap saling silaturahmi. Selalu doakan yang terbaik bagi seluruh umat manusia agar selalu berjalan beriringan, damai sejahtera setiap waktu walau ada perbedaan.

Share this