Berbicara baik atau diam

Sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, dan berlaku sampai kapanpun. Betapa mudah kini kita menimbun dosa dengan melukai perasaan orang lain. Dan betapa sulit kini kita melakukan kontrol atas apa yang akan keluar dari lisan. Kata yang sudah terucap tak bisa ditarik kembali, hanya mungkin direvisi maksudnya agar tak terlalu melukai. Namun hal itu jarang terjadi, karena ego semakin tinggi.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Benar kata pepatah yang menyebut lidah lebih tajam daripada pedang. Salah ucap bisa menimbulkan perang yang tak berkesudahan. Maka bagaimana sebaiknya kita bersikap? dengan budaya yang kini mengedepankan siapa berbicara lebih keras dan lantang, dia yang menang.

Untuk siapapun, maafkan saya jika pernah melukai dengan kata-kata yang pernah terucap ~

Untuk siapapun, kau sudah kumaafkan karena pernah melukai dengan kata-katamu ~

Mari saling introspeksi, saling memaafkan. Dan memilih jalur bahagia yang sama tanpa tanggungan penyesalan di hati.

Share this