Viral karena seutas tali

bermula dari postingan diatas..

Salah satu penjual perlengkapan bayi di Jakarta memasang tulisan agar para driver ojol yang pickup barang di tokonya untuk menyediakan tali sendiri. Dimana jika tidak mau mengikuti “aturan” dari seller tersebut diperkenankan untuk cancel orderan.

Hal ini tentu memberatkan para driver, karena modal kerja ojol standartnya ya itu sudah (helm, masker, sarung tangan, sepatu, air minum, powerbank, hp, jas hujan) mana kepikiran bawa tali.

Bisa ditebak reaksi netizen, hujatan kepada seller disemua lini account media jual. IG pun di private, Marketplace tak luput jadi incaran netizen yang haus akan pertikaian. lalu apa dampaknya?

Mungkin selama 1 minggu penjual akan tidak bisa tidur karena memikirkan nasib usahanya. Namun menurut saya, tidak hanya dampak negatif yang timbul dari kejadian ini. Ada sisi positif yang bisa saja terjadi.

Negatif :

  • Toko jadi viral karena kebijakan yang dianggap tidak memudahkan transporter / kurir.
  • Netizen akan terus mencari kesalahan lain dari penjual
  • Reputasi / cashflow penjualan sementara bisa terganggu
  • Capek hapus-hapusin komentar yang tidak perlu dan menyudutkan
  • Reputasi yang dibangun bertahun-tahun oleh pemilik, bisa jadi hancur seketika.

Positif :

  • Promosi gratis skala massive. Semakin banyak ibu-ibu stalking produk, jika lebih murah produk yang ada di toko tersebut. pasti dibeli.
  • Yang cepat viral, cepat pula dilupakan. Asal penjual bisa mengambil sikap. Dalam posisi ini, tentu permintaan maaf dan memperbaiki keadaan dengan menyediakan tali.
  • Jika melayani penjualan retail secara offline yang target market tidak eksis di sosmed, maka penjualan offline akan tetap stabil.

Hal yang bisa kita pelajari dari kejadian ini adalah bahwa setiap pengambilan keputusan / kebijakan yang melibatkan pihak lain harusnya dipikirkan terlebih dahulu dampak sosialnya. Jangan sampai pihak-pihak yang harusnya membantu kita dalam distribusi barang merasa dipersulit atas kebijakan tersebut.

Dan untuk netizen yang budiman, berkomentarlah sewajarnya. Berikan kritik yang bisa membangun. Tidak perlu mengadili berlebihan, tanpa mengetahui motivasi si penjual membuat kebijakan tersebut. Karena membangun bisnis sampai tahap saat ini pasti tidak mudah bukan?

:mrgreen:

Share this